Hijab
Berdemagalah
Dipandanganku,
kota malang malam itu sangat mempesona. Cahaya bulan yang melingkar bundar
seolah menyapu dedaunan yang gugur dihalaman pesantren, dan meneduhkan suara
kendaraan-kendaraan yang hilir mudik dijalanan. Semburat cahaya terang yang terpantul
dari tingginya nestapa putri tidur menciptakan ketenangan dan kedamaian.
Diatas
dipan sederhana anak-anak masih asyik membaringkan tubuhnya dan berlayar
kepulau impian, dimataku tampak putih-putih keinginan tuk tergerak menjalankan
LailNYA.
Dibeberapa
tempat, disepanjang zaman, sepasang muda-mudi tampak bercengkerama mesra.
Diantara mereka masih ada yang mengenakan baju sekolah, suasana malam minggu
diluar rupanya lebih menarik bagi mereka dari pada suasana malam minggu didalam
rumah, andaikan itu aku akan aku gunakan malam minggu berkumpul bersama
keluarga, tapi sayang aku yang jauh dari jangkauan orang tua hanya terkurung di
dalam pesantren, sedangkan Bercengkerama dengan pujaan hati rupanya lebih
mereka pilih dari pada bercengkerama dengan keluarga.
Dimana-mana
muda-mudi sedang jatuh cinta. Malam minggu menjadi waktu istimewa bagi mereka,
waktu untuk bertemu, saling memandang, duduk berdua bersenda gurau, pada saat
itu yang ada dalam pikiran mereka adalah terlenanya sang kekasih yang dicinta.
Tak terlintas sedikitpun bahwa malam yang indah malam minggu yang mereka lalui
pada akhirnya akan menjadi saksi sejarah bagi mereka. Yang pada akhirnya mereka
yang muda, mereka sudah melalui masa mudanya harus mempertanggungjawabkan
dihadapan sang pemilik cinta. Dan perasaan cinta itu harus
dipertanggungjawabkan kelak. Adakah kekhilafan yang mereka lakukan diluar sana.
Semilir
angin mengalirkan kesejukan positif, kicauan sepasang merpati benar-benar
terasa nyaring seumpama desauan suara dzikir yang mengirimkan ketentraman
setiap jiwa yang merasakannya.
Dari
atas dipan aku rasakan semua itu, aku merasa terhipnotis. Semua itu aku rasakan
bukan karena pergantian cuaca yang drastis berbeda dengan cuaca dirumahku.
Rembulan mulai menampakkan kebahagiaan di atas sana, bunga-bunga mawar mulai
menebarkan wanginya, nada-nada cinta mengalun di dalamnya perasaan rinduku.
gadis yang ada dalam pandanganku ibarat kilauan pancaran bulan yang melingkar
penuh.
Gadis
itu ibarat berlian yang cahaya yang tertutup lentera malam, gadis anggun yang
berpondasikan kesederhanaan, dua bola mata indah menjadi perhiasaan fisiknya,
wajah polos menebarkan inner beauty pada dirinya. Gadis yang auranya dikagumi
banyak orang.
Gadis
itu adalah arofah altofunnisa, putri sulung dari anak bapak darto, orang yang
berlatar belakang dari keluarga sederhana didaerah tapung. Bukan tidak berat
beban yang dipikul oleh pak darto, bagaimana tidak pak darto memiliki empat
orang anak, arofah anak sulung, adik arofah bernama gunawan kelas tiga
SMP,valdi kelas dua MI, dan putri sulung pak darto adalah revita berumur satu
tahun.
Sebelumnya
arofah adalah anak perempuan satu-satunya pak darto dan bu badriyah, tetapi
sebulan setelah arofah berangkat kemalang tiba-tiba dia mendapat kabar kalau
ibunya mengandung lagi, sedih bercampur bahagia lha yang mereka rasakan, karena
disatu sisi mereka akan kedatangan anggota baru, tapi disisi lain sebenarnya
kehadiran revita tidak diinginkan. Hampir setiap malam bu badriyah menangis
karena tidak menginginkan akan hadirnya revita, tetapi dengan berjalannya waktu
akhirnya semua bisa menerima karena semua itu memang sudah menjadi ketentuan
Allah. Bagaimanapun itu Insya Allah rezeky akan mengalir dengan sendirinya. Dan
Allah tidak pernah tidur, Allah selalu bersama kita, selalu bersama kita
orang-orang yang Cinta padaNYA.
Berbahagialah
saat ujian datang menghapiri kita
Karena
sesungguhnya ujian itu datang untuk menaikan derajat kemuliaan
Sesungguhnya,
jalan menuju kebahagiaan terdapat dalam kesucian hati dan kejernihan pikiran
kita, selalulah untuk bisa menjadi orang yang apa adanya, menerima segala
sesuatu dengan ikhlas, itu pesan ibuk padaku. Karena ketika kesulitan mencekik
leher dan kita tidak tau kepada siapa harus meminta, jangan pernah bingung,
jangan pernah risau, begitu dekatnya Dia pada kita, tetapi seringkali kita tak
menyadari kedekatannya pada kita.
Ketika
kapal-kapal tak lagi ada dalam sandaranku, jalan mana yang akan aku pilih,
semua suara yang terdengar dalam telingaku adalah kicauan-kicauan bersilang
riuh yang agag bising, menusuk telingaku yang peka. Orang tuaku pun merasa
tersakiti perasaanya, bagaimana tidak orang tua mana yang tak tersayat hatinya
melihat anaknya dijuluki sebagai anak yang diam-diam menghanyutkan, yah
meskipun banyak orang yang tidak setuju dengan argumen tersebut, tetapi memang
sangat tidak disangka tetangga pas sebelah rumah, tetangga yang perkataanya
sangat manis ternyata mengatai keluarga kami dengan perkataan yang kurang enak.
“
arofah sekolah bener-bener yang disana nak, jangan bikin malu bapak dan ibuk,
buktikan pada mereka kalau kamu tidak seperti apa yang mereka katakan, kamu
harus pintar, harus semangat”,
Dalam
waktu singkat, area pelupuk matakupun mulai berkaca-kaca, semua ibarat suasana
senja disetiap kedatangan kapal selalu diakhiri dengan teriakan sendu. Hati
siapa yang teriris mendengar itu semua, dengan adanya kejadian itu aku
menyumpulkan mungkin ada benarnya kenapa mereka menjuluki sebagai anak yang
diam-diam menghanyutkan, mungkin karena aku memiliki seorang pacar, padahal aku
adalah yang terkenal jarang keluar rumah kalau tidak bersama ibuk. Tapi setelah
aku punya pacar hidupku serasa liar, baru aku bisa menyadari apa fungsi
jilbabku kalau ternyata aku selalu brsenda gurau dengan seseorang yang belum
halal menjadi milikku, terlalu akrab dengan orang yang belum tentu menjadi
imamku.
Kerinduan
anak pada ayah, ibu hampir tak pernah aku rasakan, semanya berpihak ke tama
pacar pertamaku, semua ibarat kerinduan gelombang pada angin. Seperti kerinduan
hawa kepada adam. Seperti kerinduan manusia kepada sang ilahi Rabb.
Teras
rumah menjadi tempat spesial bagi sebuah pertemuan arofah dan tama. Malam
minggu adalah malam tempat peraduan rindu, ada tambahan malam apabila libur
dihari sekolah.
Dan
kami selalu mengharap hadirnya malam-malam indah seperti dahulu. Peretmuan yang
telah menghentikan langkah kakiku tuk merindui sang Khalik, pertemuan yang
telah membutakan mataku untuk melihat betapa besar dulu rinduku kepada kedua
orang tua. Semua itu sesat, pertemuan yang menyebabkan aku lupa segala hal, pertemuan
yang menyebabkan aku terlena dan tunduk hanya kepada dia, dia orang yang telah
mengajakku ke jalan berliku.
Dimanapun
kau berada saat ini, datanglah....! teras ini, kursi ini, angin ini, bintang
tiga kita, dan aku selalu menanti kehadiranmu,” harapan tama setiap kali
diakhir malam minggu, seraya membayangkan wajah jelita arofah. Saat itu dada
tama berguncang, air mata bergenang semua itu ia persembahkan untuk arofah,
kerinduannya pada arofah serupa dengan helaan napas yang tersengal untuk
berhenti.
Teras
ini telah menjadi kenangan kita, langit yang penuh bertabur bintang menjadi
saksi bisu kisah kita, dan lembaran-lembaran kasih telah menjadi referensi
dalam cerita cintaku, arofah yang pernah mengikrarkan sebuah kasih sayang penuh
dengan ketulusan dan kesetiaan, malam saat itu terasa begitu singkat, penuh
dengan tangis mata mereka saling menatap. Tangan mereka bergenggaman, tak ada
kata yang mampu diungkapkan, tetesan air mata mewakili beribu kata, diam adalah
bahasa mereka.
“kau
tak akan meninggalkanku, dan akupun tidak akan meninggalkanmu.” Bisikan satu
tahun silam.iya itu adalah bisikanmu
arofah, tapi kenapa, tapi kenapa kamu ingkari janji itu. “aku tidak bisa
menpolak keinginan orang tuaku, aku harus pergi, aku harus melanjutkan sekolah
disana ma, meskipun aku tetap disini pada akhirnya kamu juga akan melanjutkan
sekolah jauh juga, mungkin yang terbaik untuk kita, Alloh telah menurunkan
jawaban disetiap pertanyaanku, aku harus pergi, aku harus ikuti permintaan
orang tuaku.
“Dengar
penjelasanku arofah aku tak hanya berharap kau pergi dari sini tetapi aku punya
harapan lebih, aku ingin kamu menjadi menemaniku menjalani sisa hidupku,
mengiringi diriku mengarungi sejarah sebagai hamba yang bisa bersatu dalam
sebuah jalinan keluarga.
Bagi
arofah tama hanyalah masa lalunya, ilustrasi ajaib yang pada akhirnya berujung
pada perpisahan, ia selalu mensyukuri masa lalu orang yang dahulu selalu ia
sanjung.
Memang
semua itu tidak dapat dipungkiri, ia selalu terkenang akan masa-masa indah
bersama tama. Terbayang akan nasihat-nasihat yang pernah ia dengar dari tama,
seolah-olah ingin sekali dia menggenggam erat tangan tama. Tama masa laluku,
tama cinta pertamaku.
Mendadak,
aku menyadari kehidupanku masa lalu yang penuh dengan tangis kini telah
beranjak pergi. Tidak lagi akan aku perlihatkan mendungnya mata dan hatiku,
semua akan damai, tak ada lagi suara nyanyian sendu. Yang ada disini hanyalah
terbentangnya kehidupan baru yang melingkari diriku.
“kau
harus tau arofah. Aku akan selalu ada untukmu, aku tidak perduli bagaimana
lautan yang dengan kejamnya memisahkan kita, masa bodo dengan waktu, aku akan
selalu setia menunggumu. Katanya untuk menepis sebuah keraguan. Tama tetap
percaya, bahwa kisah-kisah yang menebarkan aroma kesejukan Qalbu akan kembali
hadir mewarnai masa-masa mereka.
Suara
langkah yang menginjak pasir spontan mengejutkan dan mengalihkan pandanganku
kearah timur. Ia melihat ada seorang gadis cantik yang datang menghampirinya.
Suarannya sesaat menyentakkan hatinya. Segera ia pastikan kalau gadis itu bukan
arofah, arofah yang selalu utuh dalam kisahnya.
Gadis
itu mendekati tama. “mas tama...., sapanya dengan halus. Pancaran lampu berkolaborasi
dengan angin untuk mempermainkan kilau wajah maulidia. Gadis ini berusaha
tsenyum. “hari semakin malam, udara malam tak baik untuk kondisi mas.
“mas
tam...., sampai kapan? Ujar gadis itu. Ini bukan pertama kalinya kau lakukan
hal bodoh seperti ini, mencoba memadamkan suasana panas dalam hati tama. Tapi
selama itu pula, ia gagal mendekati hati pria tampan tersebut. Hati tama keras,
tapi maulidia selalu sabar, ia selalu menunggu jawaban dari setiap pertanyaanya
pada tama.
“berapa
lama lagi aku harus menantimu? Apakah hubungan kita tidak bisa diperbaiki
seperti sedia kala. Tolong pahami aku, disini ada aku yang selalu mencintaimu.
Setiap
malam, ia selalu bertanya-tanya tentang apa yang arofah lakukan padanya.
Kekecewaannya bukan terletak pada mengapa arofah mau menuruti keinginan orang
tuanya untuk melanjutkan sekoalah dipulau jawa, perasaanmu sangat ringkih fah,
kamu tidak menghargai perasaanku. Aku tak sanggup menjalani ini semua sendiri,
aku butuh kamu, aku butuh kamu untuk selalu ada didekatku.
Andai
kau ada didekatku, aku ibarat orang yang mendapatkan sebuah kekuatan yang
dahsyat dan perjalanan apapun mampu aku lewati. Tapi semua itu hanya bayangan
semu, kau telah lenyap, kau lenyap dimakan waktu. Semenjak kepergian arofah
tama hanya mampu mengandalkan puing-puing kasih sayang yang pernah diberi oleh
arofah.
Tapi
hidup adalah kenyataan. Dan tama dipaksa untuk menghadapinya. Mungkin ini yang
dinamakan takdir cinta, cinta hanya milik sang penguasa cinta. Kita hanya robot
yang berjalan, apabila tiba waktunya untuk berjalan maka berhentilah semua.
Semua kembali kepada sang maha kasih.
Rintihan
hujan dimalam itu, mampu menyentakkan hati tama. Perlahan dia menyadari kalau
cinta yang ia agungkan ternyata tak pernah mengagungkan dia. Cinta hanya mampir
dipersimpangan terminal. Perlahan ia lepas semua beban yang membungkukkan
punggungnya. Beban yang membuatnya hampir setengah gila. Pengorbanan yang tak
pernah arofah. Seketika dia mulai bosan. Dan ingin berpaling, melupakan semua
kisahnya dengan arofah.
Sepertiga
malam tama mulai menggerakan tangannya.
Mana
mungkin bisa kulupakan
Tak
kuduga dan tak kubayangkan
Aku
mendengarkan yang tak ingin kudengar
Aku
rasakan yang pernah aku rasakan
Aku
ada diantara mereka
Yang
tak bisa bicara apa adanya
Akhirnya
aku mengerti
Dan
harus pergi dari sini
Biar
realita ini harus ku hadapi
Biar
sulit namun tetap kualami
Mau
gak mau aku harus mau
Mungkin
inilah yang dibilangnya kenyataannya
Dan
yang lebih parah lagi
Kau
minta aku harus mengerti
Namun
tak mudah aku jalani
Ttd
Adindaku sayang.
Yakinkah
hati ini untuk berlabuh kehati lain, hati yang harus dari nol lagi
mengenalinya, hati yang belum tertambat olehku. Mendengar kabar bahwasanya aku
dan arofah sudah putus hubungan. Ayahku pun langsung memutuskanku untuk segera
fokus pada dunia pendidikan, dan aku pun mendengar kabar kalau aku akan
dijodohkan dengan anak om darma, teman ayah dan bundaku.
Dari
kejauhan kupandangi bintang yang semakin lama semakin redup, aku kuatkan hatiku
untuk bisa menerima rencana perjodohan ayah bunda. Mungkin memang ini jalanya
untuk aku bisa melupakanmu.
Pagi
yang sejuk beralaskan embun yang hinggap di awang-awang kehidupan, disitu pula
aku mendapati sebuah amplop yang berisikan surat. To:arofah
"Assalamualaikum".
Semoga
kita selalu dalam lindungan Allah Swt.
Maafin
arofah mas, rofah tau semua ini memang diluar rencana kita
Izinkan
aku melangkahkan kaki ke pulau seberang, izinkan aku lepas dari pandanganmu,
lepas dari jeratan cintamu. Cintamu tak akan aku lupakan, kau adalah cinta
pertamaku, kau mengajarkanku bagaimana rasanya menjalani masa muda, walau ku
tahu itu semua tidak baik jika di teruskan, hatimu hanya sementara waktu
mengendap di hatiku, kau belum seutuhnya bisa ada dipihak ku, itu sebabnya aku
memilih untuk jauh darimu, aku ingin pergi jauh darimu, aku tidak mau terjebak
oleh kebutaan cinta semu. Aku telah merindukan diriku yang dulu, diriku yang
mampu menjaga hijabku, bukanlah dri yang kemaren diriku yang sudah menodai
kibaran hijabku yang mewarnai mahkota sang bidadari. Jangan pernah mengira
kalau aku tidak menangis, hati juga sakit melepas ini semua. Tapi percayalah
semua itu demi kebaikan kita. Kita yang masih harus banyak belajar, bagaimana
kerasnya hidup ini. Terimakasih wassalamualaikum.
Aku
hanya bisa terdiam melihat kau pergi dari sisiku
Tinggalkan
aku seakan semuanya tak lagi kau rasa
Masih
adakah tentangku dihatimu?
Mudahkah
bagimu untuk hapuskan semua kenangan bersama denganku
Tak
pernah sedikitpun aku bayangkan
Betapa
hebatnya cinta yang kau tanam
Tapi
kini kau berubah kau hancurkan hatiku
Ada
yang hilang dari perasaanku
Yang
terlanjur sudah kau pinta untuk menjauh
Ternyata
aku tak berarti bagimu
Tapi
aku tetap berharap kau tetap disini, berharap dan berharap lagi.
Ku
tunggu kau di dermaga Hijabmu.
By: santi wahyufi diningsih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar