Selasa, 12 November 2013

cerpen


Hijab Berdemagalah
Dipandanganku, kota malang malam itu sangat mempesona. Cahaya bulan yang melingkar bundar seolah menyapu dedaunan yang gugur dihalaman pesantren, dan meneduhkan suara kendaraan-kendaraan yang hilir mudik dijalanan. Semburat cahaya terang yang terpantul dari tingginya nestapa putri tidur menciptakan ketenangan dan kedamaian.
Diatas dipan sederhana anak-anak masih asyik membaringkan tubuhnya dan berlayar kepulau impian, dimataku tampak putih-putih keinginan tuk tergerak menjalankan LailNYA.
Dibeberapa tempat, disepanjang zaman, sepasang muda-mudi tampak bercengkerama mesra. Diantara mereka masih ada yang mengenakan baju sekolah, suasana malam minggu diluar rupanya lebih menarik bagi mereka dari pada suasana malam minggu didalam rumah, andaikan itu aku akan aku gunakan malam minggu berkumpul bersama keluarga, tapi sayang aku yang jauh dari jangkauan orang tua hanya terkurung di dalam pesantren, sedangkan Bercengkerama dengan pujaan hati rupanya lebih mereka pilih dari pada bercengkerama dengan keluarga.
Dimana-mana muda-mudi sedang jatuh cinta. Malam minggu menjadi waktu istimewa bagi mereka, waktu untuk bertemu, saling memandang, duduk berdua bersenda gurau, pada saat itu yang ada dalam pikiran mereka adalah terlenanya sang kekasih yang dicinta. Tak terlintas sedikitpun bahwa malam yang indah malam minggu yang mereka lalui pada akhirnya akan menjadi saksi sejarah bagi mereka. Yang pada akhirnya mereka yang muda, mereka sudah melalui masa mudanya harus mempertanggungjawabkan dihadapan sang pemilik cinta. Dan perasaan cinta itu harus dipertanggungjawabkan kelak. Adakah kekhilafan yang mereka lakukan diluar sana.
Semilir angin mengalirkan kesejukan positif, kicauan sepasang merpati benar-benar terasa nyaring seumpama desauan suara dzikir yang mengirimkan ketentraman setiap jiwa yang merasakannya.
Dari atas dipan aku rasakan semua itu, aku merasa terhipnotis. Semua itu aku rasakan bukan karena pergantian cuaca yang drastis berbeda dengan cuaca dirumahku. Rembulan mulai menampakkan kebahagiaan di atas sana, bunga-bunga mawar mulai menebarkan wanginya, nada-nada cinta mengalun di dalamnya perasaan rinduku. gadis yang ada dalam pandanganku ibarat kilauan pancaran bulan yang melingkar penuh.
Gadis itu ibarat berlian yang cahaya yang tertutup lentera malam, gadis anggun yang berpondasikan kesederhanaan, dua bola mata indah menjadi perhiasaan fisiknya, wajah polos menebarkan inner beauty pada dirinya. Gadis yang auranya dikagumi banyak orang.
Gadis itu adalah arofah altofunnisa, putri sulung dari anak bapak darto, orang yang berlatar belakang dari keluarga sederhana didaerah tapung. Bukan tidak berat beban yang dipikul oleh pak darto, bagaimana tidak pak darto memiliki empat orang anak, arofah anak sulung, adik arofah bernama gunawan kelas tiga SMP,valdi kelas dua MI, dan putri sulung pak darto adalah revita berumur satu tahun.
Sebelumnya arofah adalah anak perempuan satu-satunya pak darto dan bu badriyah, tetapi sebulan setelah arofah berangkat kemalang tiba-tiba dia mendapat kabar kalau ibunya mengandung lagi, sedih bercampur bahagia lha yang mereka rasakan, karena disatu sisi mereka akan kedatangan anggota baru, tapi disisi lain sebenarnya kehadiran revita tidak diinginkan. Hampir setiap malam bu badriyah menangis karena tidak menginginkan akan hadirnya revita, tetapi dengan berjalannya waktu akhirnya semua bisa menerima karena semua itu memang sudah menjadi ketentuan Allah. Bagaimanapun itu Insya Allah rezeky akan mengalir dengan sendirinya. Dan Allah tidak pernah tidur, Allah selalu bersama kita, selalu bersama kita orang-orang yang Cinta padaNYA.
Berbahagialah saat ujian datang menghapiri kita
Karena sesungguhnya ujian itu datang untuk menaikan derajat kemuliaan
Sesungguhnya, jalan menuju kebahagiaan terdapat dalam kesucian hati dan kejernihan pikiran kita, selalulah untuk bisa menjadi orang yang apa adanya, menerima segala sesuatu dengan ikhlas, itu pesan ibuk padaku. Karena ketika kesulitan mencekik leher dan kita tidak tau kepada siapa harus meminta, jangan pernah bingung, jangan pernah risau, begitu dekatnya Dia pada kita, tetapi seringkali kita tak menyadari kedekatannya pada kita.
Ketika kapal-kapal tak lagi ada dalam sandaranku, jalan mana yang akan aku pilih, semua suara yang terdengar dalam telingaku adalah kicauan-kicauan bersilang riuh yang agag bising, menusuk telingaku yang peka. Orang tuaku pun merasa tersakiti perasaanya, bagaimana tidak orang tua mana yang tak tersayat hatinya melihat anaknya dijuluki sebagai anak yang diam-diam menghanyutkan, yah meskipun banyak orang yang tidak setuju dengan argumen tersebut, tetapi memang sangat tidak disangka tetangga pas sebelah rumah, tetangga yang perkataanya sangat manis ternyata mengatai keluarga kami dengan perkataan yang kurang enak.
“ arofah sekolah bener-bener yang disana nak, jangan bikin malu bapak dan ibuk, buktikan pada mereka kalau kamu tidak seperti apa yang mereka katakan, kamu harus pintar, harus semangat”,
Dalam waktu singkat, area pelupuk matakupun mulai berkaca-kaca, semua ibarat suasana senja disetiap kedatangan kapal selalu diakhiri dengan teriakan sendu. Hati siapa yang teriris mendengar itu semua, dengan adanya kejadian itu aku menyumpulkan mungkin ada benarnya kenapa mereka menjuluki sebagai anak yang diam-diam menghanyutkan, mungkin karena aku memiliki seorang pacar, padahal aku adalah yang terkenal jarang keluar rumah kalau tidak bersama ibuk. Tapi setelah aku punya pacar hidupku serasa liar, baru aku bisa menyadari apa fungsi jilbabku kalau ternyata aku selalu brsenda gurau dengan seseorang yang belum halal menjadi milikku, terlalu akrab dengan orang yang belum tentu menjadi imamku.
Kerinduan anak pada ayah, ibu hampir tak pernah aku rasakan, semanya berpihak ke tama pacar pertamaku, semua ibarat kerinduan gelombang pada angin. Seperti kerinduan hawa kepada adam. Seperti kerinduan manusia kepada sang ilahi Rabb.
Teras rumah menjadi tempat spesial bagi sebuah pertemuan arofah dan tama. Malam minggu adalah malam tempat peraduan rindu, ada tambahan malam apabila libur dihari sekolah.
Dan kami selalu mengharap hadirnya malam-malam indah seperti dahulu. Peretmuan yang telah menghentikan langkah kakiku tuk merindui sang Khalik, pertemuan yang telah membutakan mataku untuk melihat betapa besar dulu rinduku kepada kedua orang tua. Semua itu sesat, pertemuan yang menyebabkan aku lupa segala hal, pertemuan yang menyebabkan aku terlena dan tunduk hanya kepada dia, dia orang yang telah mengajakku ke jalan berliku.
Dimanapun kau berada saat ini, datanglah....! teras ini, kursi ini, angin ini, bintang tiga kita, dan aku selalu menanti kehadiranmu,” harapan tama setiap kali diakhir malam minggu, seraya membayangkan wajah jelita arofah. Saat itu dada tama berguncang, air mata bergenang semua itu ia persembahkan untuk arofah, kerinduannya pada arofah serupa dengan helaan napas yang tersengal untuk berhenti.
Teras ini telah menjadi kenangan kita, langit yang penuh bertabur bintang menjadi saksi bisu kisah kita, dan lembaran-lembaran kasih telah menjadi referensi dalam cerita cintaku, arofah yang pernah mengikrarkan sebuah kasih sayang penuh dengan ketulusan dan kesetiaan, malam saat itu terasa begitu singkat, penuh dengan tangis mata mereka saling menatap. Tangan mereka bergenggaman, tak ada kata yang mampu diungkapkan, tetesan air mata mewakili beribu kata, diam adalah bahasa mereka.
“kau tak akan meninggalkanku, dan akupun tidak akan meninggalkanmu.” Bisikan satu tahun silam.iya  itu adalah bisikanmu arofah, tapi kenapa, tapi kenapa kamu ingkari janji itu. “aku tidak bisa menpolak keinginan orang tuaku, aku harus pergi, aku harus melanjutkan sekolah disana ma, meskipun aku tetap disini pada akhirnya kamu juga akan melanjutkan sekolah jauh juga, mungkin yang terbaik untuk kita, Alloh telah menurunkan jawaban disetiap pertanyaanku, aku harus pergi, aku harus ikuti permintaan orang tuaku.
“Dengar penjelasanku arofah aku tak hanya berharap kau pergi dari sini tetapi aku punya harapan lebih, aku ingin kamu menjadi menemaniku menjalani sisa hidupku, mengiringi diriku mengarungi sejarah sebagai hamba yang bisa bersatu dalam sebuah jalinan keluarga.
Bagi arofah tama hanyalah masa lalunya, ilustrasi ajaib yang pada akhirnya berujung pada perpisahan, ia selalu mensyukuri masa lalu orang yang dahulu selalu ia sanjung.
Memang semua itu tidak dapat dipungkiri, ia selalu terkenang akan masa-masa indah bersama tama. Terbayang akan nasihat-nasihat yang pernah ia dengar dari tama, seolah-olah ingin sekali dia menggenggam erat tangan tama. Tama masa laluku, tama cinta pertamaku.
Mendadak, aku menyadari kehidupanku masa lalu yang penuh dengan tangis kini telah beranjak pergi. Tidak lagi akan aku perlihatkan mendungnya mata dan hatiku, semua akan damai, tak ada lagi suara nyanyian sendu. Yang ada disini hanyalah terbentangnya kehidupan baru yang melingkari diriku.
“kau harus tau arofah. Aku akan selalu ada untukmu, aku tidak perduli bagaimana lautan yang dengan kejamnya memisahkan kita, masa bodo dengan waktu, aku akan selalu setia menunggumu. Katanya untuk menepis sebuah keraguan. Tama tetap percaya, bahwa kisah-kisah yang menebarkan aroma kesejukan Qalbu akan kembali hadir mewarnai masa-masa mereka.
Suara langkah yang menginjak pasir spontan mengejutkan dan mengalihkan pandanganku kearah timur. Ia melihat ada seorang gadis cantik yang datang menghampirinya. Suarannya sesaat menyentakkan hatinya. Segera ia pastikan kalau gadis itu bukan arofah, arofah yang selalu utuh dalam kisahnya.
Gadis itu mendekati tama. “mas tama...., sapanya dengan halus. Pancaran lampu berkolaborasi dengan angin untuk mempermainkan kilau wajah maulidia. Gadis ini berusaha tsenyum. “hari semakin malam, udara malam tak baik untuk kondisi mas.
“mas tam...., sampai kapan? Ujar gadis itu. Ini bukan pertama kalinya kau lakukan hal bodoh seperti ini, mencoba memadamkan suasana panas dalam hati tama. Tapi selama itu pula, ia gagal mendekati hati pria tampan tersebut. Hati tama keras, tapi maulidia selalu sabar, ia selalu menunggu jawaban dari setiap pertanyaanya pada tama.
“berapa lama lagi aku harus menantimu? Apakah hubungan kita tidak bisa diperbaiki seperti sedia kala. Tolong pahami aku, disini ada aku yang selalu mencintaimu.
Setiap malam, ia selalu bertanya-tanya tentang apa yang arofah lakukan padanya. Kekecewaannya bukan terletak pada mengapa arofah mau menuruti keinginan orang tuanya untuk melanjutkan sekoalah dipulau jawa, perasaanmu sangat ringkih fah, kamu tidak menghargai perasaanku. Aku tak sanggup menjalani ini semua sendiri, aku butuh kamu, aku butuh kamu untuk selalu ada didekatku.
Andai kau ada didekatku, aku ibarat orang yang mendapatkan sebuah kekuatan yang dahsyat dan perjalanan apapun mampu aku lewati. Tapi semua itu hanya bayangan semu, kau telah lenyap, kau lenyap dimakan waktu. Semenjak kepergian arofah tama hanya mampu mengandalkan puing-puing kasih sayang yang pernah diberi oleh arofah.
Tapi hidup adalah kenyataan. Dan tama dipaksa untuk menghadapinya. Mungkin ini yang dinamakan takdir cinta, cinta hanya milik sang penguasa cinta. Kita hanya robot yang berjalan, apabila tiba waktunya untuk berjalan maka berhentilah semua. Semua kembali kepada sang maha kasih.
Rintihan hujan dimalam itu, mampu menyentakkan hati tama. Perlahan dia menyadari kalau cinta yang ia agungkan ternyata tak pernah mengagungkan dia. Cinta hanya mampir dipersimpangan terminal. Perlahan ia lepas semua beban yang membungkukkan punggungnya. Beban yang membuatnya hampir setengah gila. Pengorbanan yang tak pernah arofah. Seketika dia mulai bosan. Dan ingin berpaling, melupakan semua kisahnya dengan arofah.
Sepertiga malam tama mulai menggerakan tangannya.
Mana mungkin bisa kulupakan
Tak kuduga dan tak kubayangkan
Aku mendengarkan yang tak ingin kudengar
Aku rasakan yang pernah aku rasakan
Aku ada diantara mereka
Yang tak bisa bicara apa adanya
Akhirnya aku mengerti
Dan harus pergi dari sini
Biar realita ini harus ku hadapi
Biar sulit namun tetap kualami
Mau gak mau aku harus mau
Mungkin inilah yang dibilangnya kenyataannya
Dan yang lebih parah lagi
Kau minta aku harus mengerti
Namun tak mudah aku jalani
Ttd Adindaku sayang.
Yakinkah hati ini untuk berlabuh kehati lain, hati yang harus dari nol lagi mengenalinya, hati yang belum tertambat olehku. Mendengar kabar bahwasanya aku dan arofah sudah putus hubungan. Ayahku pun langsung memutuskanku untuk segera fokus pada dunia pendidikan, dan aku pun mendengar kabar kalau aku akan dijodohkan dengan anak om darma, teman ayah dan bundaku.
Dari kejauhan kupandangi bintang yang semakin lama semakin redup, aku kuatkan hatiku untuk bisa menerima rencana perjodohan ayah bunda. Mungkin memang ini jalanya untuk aku bisa melupakanmu.
Pagi yang sejuk beralaskan embun yang hinggap di awang-awang kehidupan, disitu pula aku mendapati sebuah amplop yang berisikan surat. To:arofah
"Assalamualaikum".
Semoga kita selalu dalam lindungan Allah Swt.
Maafin arofah mas, rofah tau semua ini memang diluar rencana kita
Izinkan aku melangkahkan kaki ke pulau seberang, izinkan aku lepas dari pandanganmu, lepas dari jeratan cintamu. Cintamu tak akan aku lupakan, kau adalah cinta pertamaku, kau mengajarkanku bagaimana rasanya menjalani masa muda, walau ku tahu itu semua tidak baik jika di teruskan, hatimu hanya sementara waktu mengendap di hatiku, kau belum seutuhnya bisa ada dipihak ku, itu sebabnya aku memilih untuk jauh darimu, aku ingin pergi jauh darimu, aku tidak mau terjebak oleh kebutaan cinta semu. Aku telah merindukan diriku yang dulu, diriku yang mampu menjaga hijabku, bukanlah dri yang kemaren diriku yang sudah menodai kibaran hijabku yang mewarnai mahkota sang bidadari. Jangan pernah mengira kalau aku tidak menangis, hati juga sakit melepas ini semua. Tapi percayalah semua itu demi kebaikan kita. Kita yang masih harus banyak belajar, bagaimana kerasnya hidup ini. Terimakasih wassalamualaikum.
Aku hanya bisa terdiam melihat kau pergi dari sisiku
Tinggalkan aku seakan semuanya tak lagi kau rasa
Masih adakah tentangku dihatimu?
Mudahkah bagimu untuk hapuskan semua kenangan bersama denganku
Tak pernah sedikitpun aku bayangkan
Betapa hebatnya cinta yang kau tanam
Tapi kini kau berubah kau hancurkan hatiku
Ada yang hilang dari perasaanku
Yang terlanjur sudah kau pinta untuk menjauh
Ternyata aku tak berarti bagimu
Tapi aku tetap berharap kau tetap disini, berharap dan berharap lagi.
Ku tunggu kau di dermaga Hijabmu.

By: santi wahyufi diningsih



Tidak ada komentar:

Posting Komentar