Dia Datang Melamarku
(Santi
Wahyufi Diningsih)
Gerakan
hati yang tiada henti seolah mengingatkanku pada wajah sang kekasih
Dimana
ada ketenangan disitu terurai kerinduan yang syahdu.
Annisa mulai terbakar.
Kerisauan yang menghimpit hatinya kini berubah menjadi api kecemburuan.
percikannya menyala hebat, semua kerinduan-kerinduan yang ia bungkus rapi
selama ini pun menjelma menjadi butiran-butiran debu yang mampu diterbangkan oleh angin-angin lalu.
Aku masih saja
bertahan duduk di bawah pohon tua ini, pohon yang terpatrikan nama kita berdua sebelum
perpisahan empat tahun lalu. Ya masih saja selalu ku ingat betapa polosnya kita
dulu. Anak bau kencur yang diam-diam keluar dari pintu rumah.
Sambil mengintai “amankah jika aku pergi ke
taman kota itu sekarang” (kata Annis
dengan nada halus).
Satu dua tiga langkah
kaki mulai dihentakkan Annisa secara perlahan menuju halaman rumah, di halaman
ada Ibrahim dengan sepeda pancalnya yang sudah menunggu Annisa.
Berlari
kearah Ibrahim dengan nada ngos-ngosan . “Maaf Him, agak lama”.
“Hmm gak apa-apa
Niss, ayok aku bonceng.”
Annisa pun bergegas
naik, takut dilihat oleh ibunya. “Ayok cepetan.”
Gayuhan demi gayuhan
sepeda, Ibrahim lakukan demi Annisa, dia tidak ingin membuatnya kecewa karena
keputusan Ibrahim untuk pindah ke luar kota. Sebelum kepergiannya Ibrahim
memang memiliki niat untuk selalu bisa memenuhi apa yang di inginkan Annisa. Ya
salah satunya adalah Annisa ingin sekali dibonceng Ibrahim dengan sepeda ontel.
Sesampainya di taman
kota, barisan sepeda motor berjejer rapi, tak ada satupun kendaraan sepeda
ontel diparkiran itu. Dari sini barulah Ibrahim menyadari, mengapa Annisa ingin
sekali naik sepeda ontel, karena dari situlah kita bisa merasakan bagaimana
hidup dengan apa adanya. Betapa sederhanannya Annisa ini. mungkin inilah yang
membuatku memilih Annisa, dia adalah sosok gadis yang keindahannya pangkal dari
segala keindahan yang menggerakkan magnetik, hatiku jatuh hati setiap mata ini
memandangnya. Tapi ini semua sengaja aku sembunyikan darinya, aku berusaha
untuk pura-pura tidak peduli dengannya karena aku tidak ingin kehilangan cinta
tulusnya dan sikap lembut yang selalu membuat hatiku damai.
Malampun masih terasa
terang di sekitar Taman Kota, ada banyak sekali muda-mudi yang datang ke tempat
ini, jelas saja ramai, ini kan malam minggu kataku. Malam minggu adalah malam tempat
berkumpulnya bersama orang-orang terkasih, bukan hanya muda-mudi saja sii yang
ada di tempat ini tapi banyak juga pasangan suami istri datang ke tempat ini.
di sudut barat banyak sekali orang-orang yang berjualan segala macam souvenir.
Anak-anak kecil yang berlarian hilir mudik mengitari bundaran taman kota
melengkapi indahnya malam ini. pekat menjadi lekat, lekat nya kebersamaan ini
terasa lebih harmonis ketika kami menyantap jagung bakar.
“Malam ini mungkin
kita masih bisa duduk bersama.”
“Husttt sahut Ibrahim
memotong pembicaraan Annisa.”
“Dalam setahun masih
akan ada kesempatan untuk kita bisa bertemu, tak perlu menuai kerisauan secara
terus menerus. Ini semua demi cita-cita kita, (kata Ibrahim).”
Aku semakin terlihat
sepi, karena aku memang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua pasti akan
mengalir dengan apa adanya, mungkin aku saja yang belum bisa menerima kenyataan
ini. Takdir Allah memang benar-benar ada, Allah bisa melakukan apa saja yang Ia
kehendaki. Sekuat apapun kita mempertahankan, sekeras apapun ambisi kita untuk
menolak takdir jika Allah tidak berkehendak maka tidaklah tercapai apa yang
kita inginkan. Tapi di balik itu semua tidak akan ada yang sia-sia. Aku selalu
mencoba menghibur diriku sendiri dengan uangkapan-uangkapan yang aku
parafrasekan dengan sendiri“Semua usaha
yang telah kita lakukan saat sekarang pasti akan terlihat indah pada masa yang
telah ditentukan, hari ini kita telah bergelut dengan air mata tapi percayalah
masih ada hari esok yang akan mendatangkan perdamaian dipenguhujung rindu.”
Aku yakin bukan hanya
aku yang merasakan sesak ini, Ibrahim selalu mencoba untuk kuat. Siapapun orang
nya dan sekeras apapun hatinya dia pasti akan menangis ketika dalam hidupnya
harus melewati masa perpisahan. Dia membiarkanku menangis sendiri disudut itu,
dia pergi entah kemana, lebih baik dia tidak melihatku untuk malam ini dan
seterusnya karena semakin aku ada didekatnya semakin sakit rasa nya hati ini.
Perpisahan ya perpisahan lah yang menjembatani berakhirnya keindahan ini.
Tinggalah ukiran nama di bawah pohon rindang ini dan jejak rindu yang akan
menemani hari-hariku selanjutnya.
Pagi menyapaku dengan
sangat ramah, terlihat sepucuk surat terdampar dilangit-langit jendela kamarku.
Kubuka surat itu, firasatku memang tak pernah salah aku selalu peka dengan
aroma parfum Ibrahim. Di dalam amplop terdapat dua lembar kertas, satu kertas
masih kosong, putih bersih tidak ada goresan tinta sedikitpun, aku tidak
mengerti dengan semua ini. Kertas yang
kedua berisikan sebuah tulisan “Selamat
pagi rinduku, belajarlah untuk selalu bersama memulai dengan lembara-lembaran
baru yang lebih putih bersih seperti kertas yang kau buka pertama kali, dan
bersemangatlah untuk mengisi lembaran itu dengan kebaikan demi kebaikan. Semoga
Allah tetap menjaga cinta dan rindu kita. Amin.
Terisak pilu rasanya,
pagi yang semula ramah kini berubah menjadi sinis, tangis ku tidak lagi
mengeluarkan suara dan air mata. Rasanya semua habis terbuang. Tertinggallah
Tiga bayang semu yang semakin merasuk ke dalam fikiranku, dia yang dewasa, dia
yang tidak pernah menunjukkan perhatiannya untukku, dan dia yang mencintaiku
dengan cara yang berbeda ya dia adalah Muhammad Soleh Ibrahim, orang yang akan
selalu aku pertahankan disetiap doa-doaku setelah orang tuaku.
Kehidupan
ini hanya sesaat lalu sirna
Begitu
juga dengan kepedihan ini semua akan berlalu dengan sendiri.
Aku selalu berusaha
menampakkan wajah cerah ceriaku, aku selalu mencoba untuk tidak terlalu
membebani jiwaku dengan segala kesusahan hati, selalu belajar untuk menghibur
diri ini dengan hal-hal ringan dan lucu, karena apabila hatiku terus dipaksakan
untuk memikul beban yang berat ia akan menjadi buta. Senantiasa tersenyum manis
demi menyenangkan setiap mata yang memandang.
Hatiku berdetak
kencang, ku lirik hp ku tak ada satupun pesan seluler yang masuk. Sekejap
kulihat lagi masih saja seperti semula, getaran nada penerima pesan pun masih
belum kudengar. Ku julurkan tanganku kearah meja lalu ku ambil hp itu, mungkin
sulit jaringan pikirku hingga pada akhirnya aku membolak-balik hpku agar
mendapat signal yang bagus, tapi tidak nyatannya, mungkin dia sedang sibuk.
Tapi firasatku mengatakan lain. Aku merasa dia mulai bosan denganku. Karena aku
yang lebih terkenal agresif ketimbang dia. Dari dulu sampai sekarang dia memang
sama. Dia tetap cuek hanya saja dulu ketika dia masih ada didekatku aku bisa
merasakan kasih sayangnya yang begitu besar. Tapi tidak untuk sekarang, aku
sama sekali tidak merasakan apa-apa. Mungkinkah karena raga kami yang terpisah
jauh sehingga hatikupun merasakan demikian. Karena aku yakin ini adalah
perasaan yang datang secara murni bukan dibuat-buat.” Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan.?”
Pagi-pagi sekali ibu
sudah menyiapkan telur goreng kesukaanku. Sambil menaruh sarapan dimeja makan,
ibu memandangku dengan serius.
“Kamu
sakit Nissa?, wajahmu pucat sekali nak?, siapa yang menyakiti hatimu?”
“ Sepertinya ibu
sudah paham, ketika kondisi hatiku kurang baik. Hatiku baik-baik saja bu,
(sambil mata berkaca-kaca).”
“Ibu memelukku dan
berkata: jika hatimu merasa baik-baik
saja bukankah jiwamu merasa senang karena bisa menguatkan tubuhmu, dan jiwamu
tidak akan pernah merasa senang karena kamu terus memikirkan Ibrahim, tinggalkan
dia, lupakan dia sekarang juga agar kamu bisa mendapatkan ketenangan.”
“Cinta
yang ada dalam hatiku adalah cinta yang tumbuh karena kesesuaian dan kecocokan,
secuek apapun Ibrahim cinta yang aku miliki justru menjadi kuat dan kokoh, tapi
tidak untuk sekarang bu..aku memang lemah saat ini, tapi aku akan tetap
menunggu Ibrahim kembali, akan aku pertahankan cinta ini sampai luntur dan
menpis bu.. (sambil
menangis).
“Iya semua ibu
serahkan padamu nak, ibu hanya tidak rela melihatmu sakit seperti itu”.
“Percayalah bu aku
akan baik-baik saja.”
Kau yang telah
menyeretku masuk ke dalam lubang kebinasaan cinta ini dan kau juga yang
menyebabkanku untuk selalu mengikutimu, bayangan pelangimu masih jelas terlukis
keindahannya, jiwaku terasa mati ketika kau benar-benar pergi, jiwamu jauh dan
hatimupun kian menjauh. Tak ada kata yang mampu aku pegang karena kau memang
tidak pernah menjanjikan apa-apa padaku. Sekarang setelah kau berhasil
membuatku untuk mengikutimu kau lemparkan aku ke kerlingan matamu, lagi-lagi
kenangan itu mengingatkanku, kenangan yang terukir indah di taman kota tempat
terakhir kita berjumpa. Bosan rasannya aku dengan keadaan ini, mungkinkah jika
aku mendatangi tempat itu ada kesembuhan yang bisa membunuh penyakit yang
bersarang dikebun hatiku ini.
Kerinduan adalah
kerakusan yang hadir dalam hati, selalu bergerak dan tumbuh, kemudian mulai
berjalan menuju arah untuk menyatukan hasrat. Sepulang kuliah aku menyempatkan
diri untuk mampir ke taman kota, aku ingin mengenang masa indah kami berdua.
Terlihat ada sebuah bangunan indah bertuliskan Masjid Jami’ Taman Kota.
Bangunan yang berdiri gagah itu sempat membuatku bingung, karena hampir empat
tahun aku tidak pernah melewati tempat ini, dan sekarang sudah berubah menjadi
tempat yang jauh lebih indah dari sebelumnya karena dilingkungan sekitar sudah
disediakan tempat peribadahan untuk kita yang sedang berkunjung ke Taman kota.
Aku terus berjalan mencari pohon yang tertuliskan nama kita berdua.
Diujung timur masjid
yang masuk wilayah taman kota terlihat ada sebuah gang kecil yang apabila
diikuti akan menuju tempat parkir, suasana yang bertolak belakang dengan
tatanan terdahulu membuatku semakin bingung. Diujung sana terlihat mobil-mobil
sudah berjejer, teringat aku saat Ibrahim menitipkan sepeda pancalnya di parkir
jejeran mobil itu. Kudatangi dan semakin kudekati aku pastikan kalau aku masih
tetap mengingat masa-masa itu. Ternyata memang benar tempat itu adalah tempat
penitipan sepeda Ibrahim. Rasannya parkiran itu adalah peta jalanku hari ini
karena dari parkiran itu terlihat satu pohon rindang dimana tempat kami duduk
sambil menyantap jagung bakar.
Ada rona kegembiraan
tatkala aku masih bisa melihat lukisan cinta yang Ibrahim buat untukku, tapi
hatiku kini merasa kesepian, sudah cukup penderitaan yang kau buat untukku,
bertahun-tahun sudah kau menggantungkan dengan ketidakjelasan aku tidak lagi
percaya dengan tulisan-tulisan yang kau goreskan dipohon ini, itu hanya
kicauanmu saja, aku berhak mendapatkan kebahagiaan, berdiri di atas
ketidakpastian telah membuat cintaku luntur. Kau bukan lagi cinta yang hadir
dari kemurnian, cinta itu lebih pantas menyandang gelar cinta yang mengecoh.
Karena lelah aku menunggu hadirnya dirimu, selalu kunanti kau dibawah pohon itu
berharap kau datang dengan membawa kabar
indah, tapi ternyata tidak, masih saja tulisan-tulisan lawas itu yang menghiasi
setiap penantian ku padamu, bukan bayangan pertemuan satu kali dalam setiap
tahunnya.
Aku memang selalu
tertutup untuk masalah hati, malam ini ingin rasanya aku mencoba menghubungi
Ibrahim. Tiba-tiba kerinduan ini hadir, aku tidak tau pertanda apa ini, aku
hanya ingin ada dia disisiku malam ini. Aku tidak bisa apa-apa tubuhku semakin
terasa sakit, sebelumnya aku termasuk orang yang tergolong sehat. Mungkinkah
ini terbawa suasana batin yang begitu menyiksaku sehingga badankuku pun ikut
sakit. Kuberanikan diriku untuk menghubunginya, aneh rasannya kenapa aku begitu
deg-deg an, ternyata ketika kucoba untuk menelfon Ibrahim nomor yang ia gunakan
tidak lagi aktif. Ya Rabb betapa menderitannya aku saat ini. aku membutuhkan
dia.
Tak tau lagi apa yang
harus aku lakukan, kubuka lemari tempat penyimpanan kado-kado yang diberikan
Ibrahim padaku, terlihat jelas boneka-boneka keropy dan sapi kesukaanku,
album-album foto masa-masa SMA kami berdua dan buku harian adalah kado terakhir
dia saat perpisahan empat tahun silam.
Maafkan
aku yang tak setia untuk menunggumu kasih, aku memang bukan wanita hebat yang
mampu bersabar ketika aku digantungkan atas nama ketidakjelasan olehmu, aku
bukan wanita baik yang mampu menjaga kemurniaan cintaku yang terlahir untukmu,
perlahan hatiku mulai lelah, badankupun mengikuti rasa lelah itu, jiwaku
benar-benar mati. Hanya kerinduan yang terasa menyumbat hati ini, semua terasa
sesak, aku akan selalu berusaha
melihatmu bahagia dengan orang yang kau cintai disana, rona wajahku sebisa
mungkin akan aku ceriakan untuk dia disana, dan bibirku akan selalu berkata
bahwa keindahanlah yang menguasai hari-hariku disini. Kan selalu ku ingat saat
rasa cinta itu pertama kali hadir dalam hidupku hatiku merasa gemetar karena
kekuasaanya. Seperti raja yang menguasai rakyatnya. Mungkin benar adanya hati
bisa menjadi buta ketika kita melihat selain orang yang kita cintai, dan tuli
untuk mendengar perkataan selain orang yang kita cintai. Aku bingung harus
kemana aku bawa cinta ini, apabila aku terus melanjutkanya maka cinta ini akan
berubuntut kesedihan, karena penyakit ini sulit untuk di atasi. Aku ingin cinta
yang aku pelihara ini beranak kebahagiaan walaupun aku tidak pernah bisa
bersanding denganmu. Aku relakan kau di rebut orang lain, tapi aku tidak pernah
rela jika ada orang yang akan mengambil perasaan cintamu untukku. Hari ini aku
sedang merasakan rindu yang hebat, aku selalu berharap ada orang yang mengetuk
pintu kamarku dan datang melihat keadaanku. Aku berharap kau lah yang datang
Ibrahim. Tapi aku semakin takut. Mungkinkah ada pembeda saat rindu ini sudah
terpenuhi? Atau rindu ini semakin parah?. Aku cukupkan sampai disini aku akhiri
pengelanaan hati untuk bersua memanggil indahnya namamu, kau adalah cinta
pertama dan terakhirku.
By:Bayangan Jinggamu.
Terdengar suara
pecahan gelas di dalam kamar Annisa, Bu Marwah dan Pak Hor bergegas lari
kekamar Annisa, karena baru saja mereka berunding akan merawat jalan Annisa.
Tapi apa daya, takdir Allah lagi-lagi terbukti. Allah sangat mencintai Annisa sehingga
Ia mengambil Annisa di usia yang masih terbilang muda.
Senja hitampun
mewarnai proses pemakaman Annisa, orang tua Annisa selalu menyalahkan dirinya
sendiri kenapa tidak secepatnya untuk membawa Annisa rawat jalan di rumah
sakit. Tidak ada yang patut untuk disalahkan kita kembalikan lagi semuanya
kepada yang di atas, karena pemilik sejatinya kehidupan ini adalah Allah. Ini
semua sudah menjadi rencana Allah sebelum Annisa dilahirkan, ikhlaskan dia
pergi, karena ini semua demi kebaikan Annisa. Allah memang sangat menyayanginya
sehingga Allah tidak sanggup jika harus melihat Annisa menahan penyakit yang diderita.
Nasihat para tetangga untuk orang tua Annisa.
Terlihat mobil sedan berwarna
putih berhenti dihalaman rumah Annisa, siapa sangka ternyata di dalam mobil
mewah itu adalah Ibrahim dan keluarga besarnya. Orang tua Ibrahim tampak cemas,
mereka bingung kenapa dirumah Annisa begitu ramai, mungkinkah ada acara penting
hari ini atau jangan-jangan Annisa sedang dipersunting orang lain, kata orang
tua Ibrahim.
“Daripada menyimpan
tanya langsung saja kita masuk kerumah Annisa bu.(kata Ibrahim).”
“Benar.( kata ayah Ibrahim).”
“Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
Bu Marwah langsung
memeluk bu Hartatik. “Annisa bu, Annisa..”
“Kenapa dengan Annisa
bu?”.
“Dia telah
pergi...meninggalkan kita..”
Ibrahim langsung
menghempaskan lututnya kelantai, tubuhnya tak mampu digerakkan lagi untuk
mengucap kalimat Innalilahiwainnailaihiroji’un pun ia tak sanggup. Ibrahim
sangat terpukul mendengar kabar itu, bagaimana tidak niat baik Ibrahim dan
keluarga ternyata hanya senja hitam. Semata. Siapa yang tidak merasa mati
ketika dia datang dengan niat baik untuk melamar orang yang dicintai selama
lima tahun lamanya, ternyata orang itu telah pergi untuk selama-lamanya. Kabar
ini juga membuat orang tua Annisa semakin terpukul, karena seharusnya hari ini
adalah hari bahagia untuk Annisa karena orang selama ini ia pertahankan
cintanya dan menunggu dengan rasa yang sesakit itu karena semua dituliskan atas
nama ketidakjelasan.
Tiba-tiba bu Marwah
berjalan menuju kamar Annisa dan mengambil surat yang ia tulis terakhir kalinya
di buku harian pemberian Ibrahim.
“Lihatlah ini nak. (kata Bu Marwah).
Ia baca tulisan
terakhir Annisa, air mata jatuh dari kedua bola mata Ibrahim, dia merasakan
penyesalan yang begitu dalam. Karena selama empat tahun lamanya dia tidak
pernah mengabari Annisa, Ibrahim hanya fokus pada kuliahnya karena dia ingin
memberikan kado terindah untuk Annisa, sebisa mungkin dia menyelesaikan kuliah
selama tiga setengah tahun, sekarang Ibrahim sudah menjadi Sarjana dengan gelar
Insinyur dia juga sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan, pada akhirnya setelah
semua target itu terlaksana dia memutuskan untuk melamar Annisa. Itulah yang
Ibrahim lakukan untuk orang yang dia cintai. Tetapi takdir berkata lain. Allah
tidak memberi kesempatan padaku untuk memberikan kado indah ini untuk Annisa.
Mungkin aku yang salah tapi inilah cara indahku mencintai seorang wanita, aku
berani bersikap demikian karena aku percaya kalau Annisa benar-benar kuat.
Benar memang dia tidak pernah meninggalkan cintanya untukku, tapi dia
meninggalkanku untuk selama-lamanya. Cinta ini sangat menyengak tenggorokanku
bahkan mampu menyumbat nafasku. Aku benar-benar tidak percaya ini terjadi
padaku. Dipusaramu ini aku berjanji: akan
kusibukkan kau dengan cintaku seperti kau yang menyibukkan hatimu dengan
cintaku akan selalu aku ikhlaskan kau pergi agar ringan apa yang bersemayam
dihatiku, aku hanya memohon kepada Dzat yang membalikkan segala rencana dan
keinginanku siang ini, hasratku untuk menyuntingmu dan hasratmu untuk
menemuiku, aku terima cobaan yang telah dilimpahkan untukku dan akan selalu aku
biarkan cinta ini terus mengalir dihatiku, selamat jalan kasih jinggamu akan
tetap hidup dalam relung hatiku walau ku tau senja hitam yang selalu
menyelimuti.