Selasa, 16 Desember 2014

Belajar Bersyukur Dari Kisah

KAKEK  TAK GENTAR BERJUANG UNTUK  HIDUP
Cerita 1
           Kisah nyata yang saya tulis cerita yang pertama saya temui pada tanggal 14 Desember 2014 di terotoar arah pusat pembelanjaan matahari, saat itu aku dan ketiga temanku sedang istirahat sambil menunggu makan siang yang sudah kami pesan. kami memilih untuk membeli makan di warung-warung kecil pinggir jalan dari pada makan ditempat mewah. jelas saja karena kami sedang mengincar bakso yang di jual di pabes alias pasar besar di daerah Malang. warung ini ramai sekali penuh dengan tentara-tentara muda, sembari menunggu pesanan yang memang begitu lama akhirnya temanku memesan es degan guna untuk menyegarkan tenggorokan. 
           Tak sengaja aku melihat ke arah sebelah kiri di situ ada 1 kakek yang duduk bersandar di sebuah pagar sibuk menjajakan dagangannya. Mata ini berkaca-kaca melihat kakek tersebut. setiap kali ada orang yang lewat di depannya, kakek pun langsung menawarka "Sisir buk, gantungan Kunci", murah kok. tapi tak ada satupun yang menghiraukan sang kakek. hatiku semakin bergetar melihatnya. imajinasiku mulai bermain andaikan yang ada diposisi orang itu adalah kakekku, aku tidak bisa membayangkan. 
        sesekali ku mengalihkan pandangan dari kakek tua itu, tapi lagi-lagi aku masih penasaran masih adakah orang yang memiliki hati nurani untuk membeli dagangan kakek tua itu? tanyaku dalam hati. berapa menit aku duduk menunggu pesanan bakso yang belum juga datang akhirnya akupun melihat isi dompetku. di dalam dompetku tinggalah uang satu lembar berwarna merah yang tersisa. uang berwarna merah bukan berati dalam nominal besae seperti seratus ribu. tetapi uang yang di dompetku tinggalah sepuluh ribu.
      akhirnya aku pun beranjak dari tempat duduk dan datang menghampiri si kakek.
     "Pak ini berapaan?" sambil memegang sisir yang di jual si kakek. aku juga bingung kenapa aku panggilnya bapak ya bukan kakek padah rambutnya sudah dipenuhi dengan uban. heheeh..
     "Kaleh ewu nduk" dengan suara yang lirih (dua ribu maksudnya)
     "Kalau gantungan kuncinya berapaan pak?" kataku lagi sambil memegang dagangan si kakek.
      "Yang ini Lima ribu" kata kakek dengan lirih lagi.
      "Kakek saya belikan makan ya? tanyaku lagi" karena aku merasa kurang nyaman. aku bisa enak-enakan makan bakso sementara di depan mataku terlihat kakek tua yang memang sangat prihatin jika kita perhatikan.
       "Enggak-enggak si mbah udah makan tadi dirumah tadi".
        "Iya ya mbah saya pesankan bakso biar makan bareng" kataku sambil sedikit memaksa.
         "Enggak si mbah sudah makan kok masih kenyang" sambil memegang perutnya sebagai bukti untuk meyakinkan ku kalau si mbah benar-benar sudah makan.
        Aku pun berhenti untuk memaksa, akhirnya akupun kepo lagi, melihat hanya dengan berjualan sisir yang memang sebenarnya sisir ini bukan kebutuhan pokok masyarakat akupun mulai penasaran apakah ia kakek ini selalu pulang dengan dagangan habis atau dengan dagangan utuh.
       "Mbah kenapa kok jualan sisir?" kataku dengan kepo.
       "Yang bisa di buat cari makan cuma ini, si mbah udah tua gak bisa kerja berat dan bawa barang-barang yang berat".
         "Astagfirullah, mataku semakin berkaca, satu lagi pertanyaan terakhir yang aku lontarkan ke kakek penjual sisir. "Si mbah udah lama kah jualan kayak gini".
       "Iya udah lama, tujuh bulan udah mbah jualan sisir".
       "Aku pun langsung memilih sisir yang berwarna Biru donker, ku berikan uang makan semata wayangku untuk si mbah. Meskipun aku tidak membutuhkan sisir tapi aku ingin sekali bisa membantu orang disekelilingku.Bayangkan lah apabila aku yang berada diposisi kakek penjual sisir itu. Mulailah untuk mensyukuri apa yang kita punya, dahulukanlah kebutuhan orang lain itu pesan ibu saya. Hidup di tanah rantau memang mengajarkan kita banyak hal, yang dulunya manja sekarang sedikit demi sedikit mungkin ada perbaikan, banyak hal yang bisa kita dapatkan untuk mensyukuri hidup ini, Jangan ada lagi kata malas untuk belajar, malas untuk berprestasi, karena yang dirumah tak pernah malas untuk mencari biaya. itu juga peringatan yang harus kita tanamkan terutama untuk diriku sendiri.
     ehhhh hatiku lega rasanya dan ternyata pesanan baksoku pun datang, sembari makan aku terus melihat si mbah, kira-kira ada lagi gak ya yang beli jualan nya si mbah, ehhhh ternyata satu persatu orang yang lewat pun mampir di tempat jualan si mbah dan langsung membeli dagangannya. jejeran sisir pun mulai merenggang tandanya jualan si mbah banyak yang laku terjual. akhirnya bisa makan bakso dengan hati gembira juga.
Semanagat!!!
Ini dia sisir yang aku beli dari si Mbah, bakal aku simpen baik-baik

Cerita 2
KAKEK PENJUAL GORENGAN
         
    Pagi ini tanggal 17 Desember lagi-lagi aku melihat seorang kakek yang jualan gorengan. dari kejauhan sudah terdengar suara"Gettas, Weci, Onde-onde". wahhh cerita ini juga gak kalah serunya dengan cerita 1, di bumi ini banyak sekali orang-orang yang patut kita contoh semangatnya. jelas saja hari ini ada seorang kakek yang kondisi fisiknya kurang sempurna tapi demi menjalani kerasnya hidup ini kakek itu pun berjualan gorengan. Dan alhamdulilah ternyata banyak juga yang mau beli dagangan si mbah gorengan ini, aku kan jadi ikut seneng lihatnya.


Si mbah melayani pembeli
   Si mbah penjual gorengan ini hebat menjajakan dagangannya dengan kendaraan Mercy, karena keterbatasan fisiknya itulah si mbah tetap semangat.
Ini dia Mercy nya si mbah (Merek Sikil(dalam bahasa jawa)
 karena jalan kaki lebih menyehatkan dari pada menggunakan mobil mercy beneran. semoga rejeki si mbah penjual sisir dan mbah penjual gorengan di lanccarkan. uPzzzz maaf sebelumnya ya mbah saya gak minta izin. diam-diam saya memfoto si mbah dari perpustakaan di tempat saya menulis. maaffff mbahhhhh :p.
Peace
Msrcy

 Ini dia kejadian beberapa hari lalu dan hari ini yang sangat membuat aku berkesan, makaya aku curahin deh di blog ku ini. temen-temen ikut baca juga ya, supaya kita bisa sama-sama belajar untuk bisa bersyukur.....
Semangat 
By Santi Wahyufi Diningsih_Pulpen Beransel :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar