Mulai Dari Hati Agar Amanah Menjadi Hidup
Oleh: Santi
Wahyufi Diningsih
Universitas
Islam Malang
15 Juni 2014
pukul 21:40
Jika kita
pernah membaca buku yang di tulis oleh
Sa’id Abdul Azhim yang berjudul “Agar Hati Lebih Hidup” maka kita akan
menemukan defenisi dari hati. Hati adalah nurani yang tinggi, ringan, hidup dan
bergerak yang menduduki posisi paling utama. Ia mengalir dalam tubuh bagaikan
berjalannya air pada paru-paru, minyak dalam zaitun, dan api dalam arang.
Begitu juga
ketika kita akan memilih seorang pemimpin, yang Insya Allah akan dilaksanakan
nya sebuah pemilu raya untuk warga Indonesia pada bulan juli mendatang. Banyak
dari kita yang masih dibingungkan oleh hal-hal yang bisa menyangkut pautkan
antara hati dan pikiran. Sebut saja kita sering bertanya-tanya sendiri,
pemimpin seperti apakah yang ideal atau pemimpin seperti apakah yang pantas
untuk kita pilih. Kebingungan itu terjadi pastinya tidak terlepas dari isu yang
telah beredar selama masa kampanye ini. Bila kita perhatian akhir-akhir ini
seringkali muncul kiriman misterius yang menghantarkan sebuah paketan ke
pondok-pondok pesantren yang ada di Indonesia. Khususnya di daerah Jawa Timur.
Paketan itu berisi tentang kampanye hitam yang menjelek-jelekkan salah satu
dari calon presiden kita. Disini mulai timbul masalah baru yaitu dengan
munculnya kebimbangan untuk yang
kesekian kalinya.
Dari pada
kita galau tak menentu gara-gara bingung menentukan calon pemimpin seperti
apakah yang pantas untuk kita pilih. Kembalikan semua ke Agama kita. Kita punya
pondasi agama yang kuat, kita mempunyai kitab yang penuh penuh dengan
pembelajaran-pembelajaran tentang hidup. mari kita kemas pemikiran kita menjadi
ringkas tentukan pilihan kita untuk memilih seorang pemimpin yang ideal menurut
islam.
Setiap dari kita yang dilahirkan ke dunia mulai
dari yang pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, mengapa
demikian? karena setidaknya kita adalah seorang pemimpin bagi diri kita
sendiri. Ideal tidaknya seorang pemimpin pasti akan berdampak kepada apa yang telah dipimpin
olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah sebuah amanah yang sangat berat, harus dilaksanakan
dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena suatu saat Allah akan
meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.
Dalam agama
kita yaitu agama Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin
yang baik diantaranya : Beriman dan Beramal Shaleh, memiliki niat yang Lurus, Laki-Laki,
Tidak Meminta Jabatan, Berpegang pada Hukum Allah, Memutuskan Perkara Dengan
Adil, Menasehati rakyat, Tidak Menerima Hadiah, Tegas dan Lemah Lembut.
Itulah kriteria pemimpin ideal menurut islam,
apabila kita sudah mengetahui apa saja kriteria seorang pemimpin menurut islam
kini tugas kita adalah untuk menata hati. Menata hati bukan dilakukan oleh satu
pihak saja melainkan dari kedua belah pihak. Ibarat suatu proses transaksi jual
beli di sebuah toko kedua belah pihak harus sama-sama setuju agar tercapainya
sebuah kesepakatan.
Begitu juga dengan kita yang tercatat sebagai
rakyat mari kita persiapkan hati kita untuk memilih pemimpin yang baik dan
ideal sesuai dengan Islam, dan untuk para calon pemimpin yang tercatat sebagai
calon orang nomor satu di Indonesia bersiapkan juga hati bapak capres dan
cawapres untuk bisa menjadikan amanah itu lebih hidup yang jauh dari sebuah
kematian karena yang teduh itu berbeda dengan yang panas. Jadikan negara kita
ini negara yang teduh jauh dari janji-janji belaka, jadikan semuanya lebih jaya
lagi dengan mempersiapkan hati kita antara yang akan memimpin dan yang akan
dipimpin kita buat kesepakatan melalui keyakinan hati yang berpondasikan ajaran
Islam. Karena hati bagaikan raja yang menjadi komandan, sedangkan anggota tubuh
ibarat perajurit mereka tidak boleh melakukan kegiatan apapun tanpa komando darinya
karena hati terbagi menjadi dua bagian yaitu bilik kanan dan bilik kiri,
serambi kanan dan serambi kiri. Hati
adalah letaknya sebuah kebaikan dan keburukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar