Senin, 11 Agustus 2014

Essai (Lomba ITB)




Mulai Dari Hati Agar Amanah Menjadi Hidup
Oleh: Santi Wahyufi Diningsih
Universitas Islam Malang
15 Juni 2014 pukul 21:40

Jika kita pernah membaca buku yang di tulis oleh  Sa’id Abdul Azhim yang berjudul “Agar Hati Lebih Hidup” maka kita akan menemukan defenisi dari hati. Hati adalah nurani yang tinggi, ringan, hidup dan bergerak yang menduduki posisi paling utama. Ia mengalir dalam tubuh bagaikan berjalannya air pada paru-paru, minyak dalam zaitun, dan api dalam arang.
Begitu juga ketika kita akan memilih seorang pemimpin, yang Insya Allah akan dilaksanakan nya sebuah pemilu raya untuk warga Indonesia pada bulan juli mendatang. Banyak dari kita yang masih dibingungkan oleh hal-hal yang bisa menyangkut pautkan antara hati dan pikiran. Sebut saja kita sering bertanya-tanya sendiri, pemimpin seperti apakah yang ideal atau pemimpin seperti apakah yang pantas untuk kita pilih. Kebingungan itu terjadi pastinya tidak terlepas dari isu yang telah beredar selama masa kampanye ini. Bila kita perhatian akhir-akhir ini seringkali muncul kiriman misterius yang menghantarkan sebuah paketan ke pondok-pondok pesantren yang ada di Indonesia. Khususnya di daerah Jawa Timur. Paketan itu berisi tentang kampanye hitam yang menjelek-jelekkan salah satu dari calon presiden kita. Disini mulai timbul masalah baru yaitu dengan munculnya  kebimbangan untuk yang kesekian kalinya.
Dari pada kita galau tak menentu gara-gara bingung menentukan calon pemimpin seperti apakah yang pantas untuk kita pilih. Kembalikan semua ke Agama kita. Kita punya pondasi agama yang kuat, kita mempunyai kitab yang penuh penuh dengan pembelajaran-pembelajaran tentang hidup. mari kita kemas pemikiran kita menjadi ringkas tentukan pilihan kita untuk memilih seorang pemimpin yang ideal menurut islam.
Setiap dari kita yang dilahirkan ke dunia mulai dari yang pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, mengapa demikian? karena setidaknya kita adalah seorang pemimpin bagi diri kita sendiri. Ideal tidaknya seorang pemimpin pasti akan  berdampak kepada apa yang telah dipimpin olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah sebuah  amanah yang sangat berat, harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena suatu saat Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.
 Dalam agama kita yaitu agama Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin yang baik diantaranya : Beriman dan Beramal Shaleh, memiliki niat yang Lurus, Laki-Laki, Tidak Meminta Jabatan, Berpegang pada Hukum Allah, Memutuskan Perkara Dengan Adil, Menasehati rakyat, Tidak Menerima Hadiah, Tegas dan Lemah Lembut.
Itulah kriteria pemimpin ideal menurut islam, apabila kita sudah mengetahui apa saja kriteria seorang pemimpin menurut islam kini tugas kita adalah untuk menata hati. Menata hati bukan dilakukan oleh satu pihak saja melainkan dari kedua belah pihak. Ibarat suatu proses transaksi jual beli di sebuah toko kedua belah pihak harus sama-sama setuju agar tercapainya sebuah kesepakatan.
Begitu juga dengan kita yang tercatat sebagai rakyat mari kita persiapkan hati kita untuk memilih pemimpin yang baik dan ideal sesuai dengan Islam, dan untuk para calon pemimpin yang tercatat sebagai calon orang nomor satu di Indonesia bersiapkan juga hati bapak capres dan cawapres untuk bisa menjadikan amanah itu lebih hidup yang jauh dari sebuah kematian karena yang teduh itu berbeda dengan yang panas. Jadikan negara kita ini negara yang teduh jauh dari janji-janji belaka, jadikan semuanya lebih jaya lagi dengan mempersiapkan hati kita antara yang akan memimpin dan yang akan dipimpin kita buat kesepakatan melalui keyakinan hati yang berpondasikan ajaran Islam. Karena hati bagaikan raja yang menjadi komandan, sedangkan anggota tubuh ibarat perajurit mereka tidak boleh melakukan kegiatan apapun tanpa komando darinya karena hati terbagi menjadi dua bagian yaitu bilik kanan dan bilik kiri, serambi kanan dan serambi kiri. Hati  adalah letaknya sebuah kebaikan dan keburukan.


 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar