Rabu, 04 Juni 2014

Cerpen



Dia Datang Melamarku
(Santi Wahyufi Diningsih)
Gerakan hati yang tiada henti seolah mengingatkanku pada  wajah sang kekasih
Dimana ada ketenangan disitu terurai kerinduan yang syahdu.
Annisa mulai terbakar. Kerisauan yang menghimpit hatinya kini berubah menjadi api kecemburuan. percikannya menyala hebat, semua kerinduan-kerinduan yang ia bungkus rapi selama ini pun menjelma menjadi butiran-butiran debu  yang mampu diterbangkan oleh angin-angin lalu.
Aku masih saja bertahan duduk di bawah pohon tua ini, pohon yang  terpatrikan nama kita berdua sebelum perpisahan empat tahun lalu. Ya masih saja selalu ku ingat betapa polosnya kita dulu. Anak bau kencur yang diam-diam keluar dari pintu rumah.
 Sambil mengintai “amankah jika aku pergi ke taman kota itu sekarang” (kata Annis dengan nada halus).
Satu dua tiga langkah kaki mulai dihentakkan Annisa secara perlahan menuju halaman rumah, di halaman ada Ibrahim dengan sepeda pancalnya yang sudah menunggu Annisa.
Berlari kearah Ibrahim dengan nada ngos-ngosan . “Maaf Him, agak lama”.
“Hmm gak apa-apa Niss, ayok aku bonceng.”
Annisa pun bergegas naik, takut dilihat oleh ibunya. “Ayok cepetan.”
Gayuhan demi gayuhan sepeda, Ibrahim lakukan demi Annisa, dia tidak ingin membuatnya kecewa karena keputusan Ibrahim untuk pindah ke luar kota. Sebelum kepergiannya Ibrahim memang memiliki niat untuk selalu bisa memenuhi apa yang di inginkan Annisa. Ya salah satunya adalah Annisa ingin sekali dibonceng Ibrahim dengan sepeda ontel.
Sesampainya di taman kota, barisan sepeda motor berjejer rapi, tak ada satupun kendaraan sepeda ontel diparkiran itu. Dari sini barulah Ibrahim menyadari, mengapa Annisa ingin sekali naik sepeda ontel, karena dari situlah kita bisa merasakan bagaimana hidup dengan apa adanya. Betapa  sederhanannya Annisa ini. mungkin inilah yang membuatku memilih Annisa, dia adalah sosok gadis yang keindahannya pangkal dari segala keindahan yang menggerakkan magnetik, hatiku jatuh hati setiap mata ini memandangnya. Tapi ini semua sengaja aku sembunyikan darinya, aku berusaha untuk pura-pura tidak peduli dengannya karena aku tidak ingin kehilangan cinta tulusnya dan sikap lembut yang selalu membuat hatiku damai.
Malampun masih terasa terang di sekitar Taman Kota, ada banyak sekali muda-mudi yang datang ke tempat ini, jelas saja ramai, ini kan malam minggu kataku. Malam minggu adalah malam tempat berkumpulnya bersama orang-orang terkasih, bukan hanya muda-mudi saja sii yang ada di tempat ini tapi banyak juga pasangan suami istri datang ke tempat ini. di sudut barat banyak sekali orang-orang yang berjualan segala macam souvenir. Anak-anak kecil yang berlarian hilir mudik mengitari bundaran taman kota melengkapi indahnya malam ini. pekat menjadi lekat, lekat nya kebersamaan ini terasa lebih harmonis ketika kami menyantap jagung bakar.
“Malam ini mungkin kita masih bisa duduk bersama.”
“Husttt sahut Ibrahim memotong pembicaraan Annisa.”
“Dalam setahun masih akan ada kesempatan untuk kita bisa bertemu, tak perlu menuai kerisauan secara terus menerus. Ini semua demi cita-cita kita, (kata Ibrahim).
Aku semakin terlihat sepi, karena aku memang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua pasti akan mengalir dengan apa adanya, mungkin aku saja yang belum bisa menerima kenyataan ini. Takdir Allah memang benar-benar ada, Allah bisa melakukan apa saja yang Ia kehendaki. Sekuat apapun kita mempertahankan, sekeras apapun ambisi kita untuk menolak takdir jika Allah tidak berkehendak maka tidaklah tercapai apa yang kita inginkan. Tapi di balik itu semua tidak akan ada yang sia-sia. Aku selalu mencoba menghibur diriku sendiri dengan uangkapan-uangkapan yang aku parafrasekan dengan sendiri“Semua usaha yang telah kita lakukan saat sekarang pasti akan terlihat indah pada masa yang telah ditentukan, hari ini kita telah bergelut dengan air mata tapi percayalah masih ada hari esok yang akan mendatangkan perdamaian dipenguhujung rindu.”
Aku yakin bukan hanya aku yang merasakan sesak ini, Ibrahim selalu mencoba untuk kuat. Siapapun orang nya dan sekeras apapun hatinya dia pasti akan menangis ketika dalam hidupnya harus melewati masa perpisahan. Dia membiarkanku menangis sendiri disudut itu, dia pergi entah kemana, lebih baik dia tidak melihatku untuk malam ini dan seterusnya karena semakin aku ada didekatnya semakin sakit rasa nya hati ini. Perpisahan ya perpisahan lah yang menjembatani berakhirnya keindahan ini. Tinggalah ukiran nama di bawah pohon rindang ini dan jejak rindu yang akan menemani hari-hariku selanjutnya.
Pagi menyapaku dengan sangat ramah, terlihat sepucuk surat terdampar dilangit-langit jendela kamarku. Kubuka surat itu, firasatku memang tak pernah salah aku selalu peka dengan aroma parfum Ibrahim. Di dalam amplop terdapat dua lembar kertas, satu kertas masih kosong, putih bersih tidak ada goresan tinta sedikitpun, aku tidak mengerti dengan semua ini.  Kertas yang kedua berisikan sebuah tulisan “Selamat pagi rinduku, belajarlah untuk selalu bersama memulai dengan lembara-lembaran baru yang lebih putih bersih seperti kertas yang kau buka pertama kali, dan bersemangatlah untuk mengisi lembaran itu dengan kebaikan demi kebaikan. Semoga Allah tetap menjaga cinta dan rindu kita. Amin.
Terisak pilu rasanya, pagi yang semula ramah kini berubah menjadi sinis, tangis ku tidak lagi mengeluarkan suara dan air mata. Rasanya semua habis terbuang. Tertinggallah Tiga bayang semu yang semakin merasuk ke dalam fikiranku, dia yang dewasa, dia yang tidak pernah menunjukkan perhatiannya untukku, dan dia yang mencintaiku dengan cara yang berbeda ya dia adalah Muhammad Soleh Ibrahim, orang yang akan selalu aku pertahankan disetiap doa-doaku setelah orang tuaku.
Kehidupan ini hanya sesaat lalu sirna
Begitu juga dengan kepedihan ini semua akan berlalu dengan sendiri.
Aku selalu berusaha menampakkan wajah cerah ceriaku, aku selalu mencoba untuk tidak terlalu membebani jiwaku dengan segala kesusahan hati, selalu belajar untuk menghibur diri ini dengan hal-hal ringan dan lucu, karena apabila hatiku terus dipaksakan untuk memikul beban yang berat ia akan menjadi buta. Senantiasa tersenyum manis demi menyenangkan setiap mata yang memandang.
Hatiku berdetak kencang, ku lirik hp ku tak ada satupun pesan seluler yang masuk. Sekejap kulihat lagi masih saja seperti semula, getaran nada penerima pesan pun masih belum kudengar. Ku julurkan tanganku kearah meja lalu ku ambil hp itu, mungkin sulit jaringan pikirku hingga pada akhirnya aku membolak-balik hpku agar mendapat signal yang bagus, tapi tidak nyatannya, mungkin dia sedang sibuk. Tapi firasatku mengatakan lain. Aku merasa dia mulai bosan denganku. Karena aku yang lebih terkenal agresif ketimbang dia. Dari dulu sampai sekarang dia memang sama. Dia tetap cuek hanya saja dulu ketika dia masih ada didekatku aku bisa merasakan kasih sayangnya yang begitu besar. Tapi tidak untuk sekarang, aku sama sekali tidak merasakan apa-apa. Mungkinkah karena raga kami yang terpisah jauh sehingga hatikupun merasakan demikian. Karena aku yakin ini adalah perasaan yang datang secara murni bukan dibuat-buat.” Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan.?”
Pagi-pagi sekali ibu sudah menyiapkan telur goreng kesukaanku. Sambil menaruh sarapan dimeja makan, ibu memandangku dengan serius.
“Kamu sakit Nissa?, wajahmu pucat sekali nak?, siapa yang menyakiti hatimu?”               
“ Sepertinya ibu sudah paham, ketika kondisi hatiku kurang baik. Hatiku baik-baik saja bu, (sambil mata berkaca-kaca).”
“Ibu memelukku dan berkata: jika hatimu merasa baik-baik saja bukankah jiwamu merasa senang karena bisa menguatkan tubuhmu, dan jiwamu tidak akan pernah merasa senang karena kamu terus memikirkan Ibrahim, tinggalkan dia, lupakan dia sekarang juga agar kamu bisa mendapatkan ketenangan.”
“Cinta yang ada dalam hatiku adalah cinta yang tumbuh karena kesesuaian dan kecocokan, secuek apapun Ibrahim cinta yang aku miliki justru menjadi kuat dan kokoh, tapi tidak untuk sekarang bu..aku memang lemah saat ini, tapi aku akan tetap menunggu Ibrahim kembali, akan aku pertahankan cinta ini sampai luntur dan menpis bu.. (sambil menangis).
“Iya semua ibu serahkan padamu nak, ibu hanya tidak rela melihatmu sakit seperti itu”.
“Percayalah bu aku akan baik-baik saja.”
Kau yang telah menyeretku masuk ke dalam lubang kebinasaan cinta ini dan kau juga yang menyebabkanku untuk selalu mengikutimu, bayangan pelangimu masih jelas terlukis keindahannya, jiwaku terasa mati ketika kau benar-benar pergi, jiwamu jauh dan hatimupun kian menjauh. Tak ada kata yang mampu aku pegang karena kau memang tidak pernah menjanjikan apa-apa padaku. Sekarang setelah kau berhasil membuatku untuk mengikutimu kau lemparkan aku ke kerlingan matamu, lagi-lagi kenangan itu mengingatkanku, kenangan yang terukir indah di taman kota tempat terakhir kita berjumpa. Bosan rasannya aku dengan keadaan ini, mungkinkah jika aku mendatangi tempat itu ada kesembuhan yang bisa membunuh penyakit yang bersarang dikebun hatiku ini.
Kerinduan adalah kerakusan yang hadir dalam hati, selalu bergerak dan tumbuh, kemudian mulai berjalan menuju arah untuk menyatukan hasrat. Sepulang kuliah aku menyempatkan diri untuk mampir ke taman kota, aku ingin mengenang masa indah kami berdua. Terlihat ada sebuah bangunan indah bertuliskan Masjid Jami’ Taman Kota. Bangunan yang berdiri gagah itu sempat membuatku bingung, karena hampir empat tahun aku tidak pernah melewati tempat ini, dan sekarang sudah berubah menjadi tempat yang jauh lebih indah dari sebelumnya karena dilingkungan sekitar sudah disediakan tempat peribadahan untuk kita yang sedang berkunjung ke Taman kota. Aku terus berjalan mencari pohon yang tertuliskan nama kita berdua.
Diujung timur masjid yang masuk wilayah taman kota terlihat ada sebuah gang kecil yang apabila diikuti akan menuju tempat parkir, suasana yang bertolak belakang dengan tatanan terdahulu membuatku semakin bingung. Diujung sana terlihat mobil-mobil sudah berjejer, teringat aku saat Ibrahim menitipkan sepeda pancalnya di parkir jejeran mobil itu. Kudatangi dan semakin kudekati aku pastikan kalau aku masih tetap mengingat masa-masa itu. Ternyata memang benar tempat itu adalah tempat penitipan sepeda Ibrahim. Rasannya parkiran itu adalah peta jalanku hari ini karena dari parkiran itu terlihat satu pohon rindang dimana tempat kami duduk sambil menyantap jagung bakar.
Ada rona kegembiraan tatkala aku masih bisa melihat lukisan cinta yang Ibrahim buat untukku, tapi hatiku kini merasa kesepian, sudah cukup penderitaan yang kau buat untukku, bertahun-tahun sudah kau menggantungkan dengan ketidakjelasan aku tidak lagi percaya dengan tulisan-tulisan yang kau goreskan dipohon ini, itu hanya kicauanmu saja, aku berhak mendapatkan kebahagiaan, berdiri di atas ketidakpastian telah membuat cintaku luntur. Kau bukan lagi cinta yang hadir dari kemurnian, cinta itu lebih pantas menyandang gelar cinta yang mengecoh. Karena lelah aku menunggu hadirnya dirimu, selalu kunanti kau dibawah pohon itu  berharap kau datang dengan membawa kabar indah, tapi ternyata tidak, masih saja tulisan-tulisan lawas itu yang menghiasi setiap penantian ku padamu, bukan bayangan pertemuan satu kali dalam setiap tahunnya.
Aku memang selalu tertutup untuk masalah hati, malam ini ingin rasanya aku mencoba menghubungi Ibrahim. Tiba-tiba kerinduan ini hadir, aku tidak tau pertanda apa ini, aku hanya ingin ada dia disisiku malam ini. Aku tidak bisa apa-apa tubuhku semakin terasa sakit, sebelumnya aku termasuk orang yang tergolong sehat. Mungkinkah ini terbawa suasana batin yang begitu menyiksaku sehingga badankuku pun ikut sakit. Kuberanikan diriku untuk menghubunginya, aneh rasannya kenapa aku begitu deg-deg an, ternyata ketika kucoba untuk menelfon Ibrahim nomor yang ia gunakan tidak lagi aktif. Ya Rabb betapa menderitannya aku saat ini. aku membutuhkan dia.
Tak tau lagi apa yang harus aku lakukan, kubuka lemari tempat penyimpanan kado-kado yang diberikan Ibrahim padaku, terlihat jelas boneka-boneka keropy dan sapi kesukaanku, album-album foto masa-masa SMA kami berdua dan buku harian adalah kado terakhir dia saat perpisahan empat tahun silam.
Maafkan aku yang tak setia untuk menunggumu kasih, aku memang bukan wanita hebat yang mampu bersabar ketika aku digantungkan atas nama ketidakjelasan olehmu, aku bukan wanita baik yang mampu menjaga kemurniaan cintaku yang terlahir untukmu, perlahan hatiku mulai lelah, badankupun mengikuti rasa lelah itu, jiwaku benar-benar mati. Hanya kerinduan yang terasa menyumbat hati ini, semua terasa sesak,  aku akan selalu berusaha melihatmu bahagia dengan orang yang kau cintai disana, rona wajahku sebisa mungkin akan aku ceriakan untuk dia disana, dan bibirku akan selalu berkata bahwa keindahanlah yang menguasai hari-hariku disini. Kan selalu ku ingat saat rasa cinta itu pertama kali hadir dalam hidupku hatiku merasa gemetar karena kekuasaanya. Seperti raja yang menguasai rakyatnya. Mungkin benar adanya hati bisa menjadi buta ketika kita melihat selain orang yang kita cintai, dan tuli untuk mendengar perkataan selain orang yang kita cintai. Aku bingung harus kemana aku bawa cinta ini, apabila aku terus melanjutkanya maka cinta ini akan berubuntut kesedihan, karena penyakit ini sulit untuk di atasi. Aku ingin cinta yang aku pelihara ini beranak kebahagiaan walaupun aku tidak pernah bisa bersanding denganmu. Aku relakan kau di rebut orang lain, tapi aku tidak pernah rela jika ada orang yang akan mengambil perasaan cintamu untukku. Hari ini aku sedang merasakan rindu yang hebat, aku selalu berharap ada orang yang mengetuk pintu kamarku dan datang melihat keadaanku. Aku berharap kau lah yang datang Ibrahim. Tapi aku semakin takut. Mungkinkah ada pembeda saat rindu ini sudah terpenuhi? Atau rindu ini semakin parah?. Aku cukupkan sampai disini aku akhiri pengelanaan hati untuk bersua memanggil indahnya namamu, kau adalah cinta pertama dan terakhirku.
By:Bayangan Jinggamu.
Terdengar suara pecahan gelas di dalam kamar Annisa, Bu Marwah dan Pak Hor bergegas lari kekamar Annisa, karena baru saja mereka berunding akan merawat jalan Annisa. Tapi apa daya, takdir Allah lagi-lagi terbukti. Allah sangat mencintai Annisa sehingga Ia mengambil Annisa di usia yang masih terbilang muda.
Senja hitampun mewarnai proses pemakaman Annisa, orang tua Annisa selalu menyalahkan dirinya sendiri kenapa tidak secepatnya untuk membawa Annisa rawat jalan di rumah sakit. Tidak ada yang patut untuk disalahkan kita kembalikan lagi semuanya kepada yang di atas, karena pemilik sejatinya kehidupan ini adalah Allah. Ini semua sudah menjadi rencana Allah sebelum Annisa dilahirkan, ikhlaskan dia pergi, karena ini semua demi kebaikan Annisa. Allah memang sangat menyayanginya sehingga Allah tidak sanggup jika harus melihat Annisa menahan penyakit yang diderita. Nasihat para tetangga untuk orang tua Annisa.
Terlihat mobil sedan berwarna putih berhenti dihalaman rumah Annisa, siapa sangka ternyata di dalam mobil mewah itu adalah Ibrahim dan keluarga besarnya. Orang tua Ibrahim tampak cemas, mereka bingung kenapa dirumah Annisa begitu ramai, mungkinkah ada acara penting hari ini atau jangan-jangan Annisa sedang dipersunting orang lain, kata orang tua Ibrahim.
“Daripada menyimpan tanya langsung saja kita masuk kerumah Annisa bu.(kata Ibrahim).”
“Benar.( kata ayah Ibrahim).”
“Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
Bu Marwah langsung memeluk bu Hartatik. “Annisa bu, Annisa..”
“Kenapa dengan Annisa bu?”.
“Dia telah pergi...meninggalkan kita..”
Ibrahim langsung menghempaskan lututnya kelantai, tubuhnya tak mampu digerakkan lagi untuk mengucap kalimat Innalilahiwainnailaihiroji’un pun ia tak sanggup. Ibrahim sangat terpukul mendengar kabar itu, bagaimana tidak niat baik Ibrahim dan keluarga ternyata hanya senja hitam. Semata. Siapa yang tidak merasa mati ketika dia datang dengan niat baik untuk melamar orang yang dicintai selama lima tahun lamanya, ternyata orang itu telah pergi untuk selama-lamanya. Kabar ini juga membuat orang tua Annisa semakin terpukul, karena seharusnya hari ini adalah hari bahagia untuk Annisa karena orang selama ini ia pertahankan cintanya dan menunggu dengan rasa yang sesakit itu karena semua dituliskan atas nama ketidakjelasan.
Tiba-tiba bu Marwah berjalan menuju kamar Annisa dan mengambil surat yang ia tulis terakhir kalinya di buku harian pemberian Ibrahim.
“Lihatlah ini nak. (kata Bu Marwah).
Ia baca tulisan terakhir Annisa, air mata jatuh dari kedua bola mata Ibrahim, dia merasakan penyesalan yang begitu dalam. Karena selama empat tahun lamanya dia tidak pernah mengabari Annisa, Ibrahim hanya fokus pada kuliahnya karena dia ingin memberikan kado terindah untuk Annisa, sebisa mungkin dia menyelesaikan kuliah selama tiga setengah tahun, sekarang Ibrahim sudah menjadi Sarjana dengan gelar Insinyur dia juga sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan, pada akhirnya setelah semua target itu terlaksana dia memutuskan untuk melamar Annisa. Itulah yang Ibrahim lakukan untuk orang yang dia cintai. Tetapi takdir berkata lain. Allah tidak memberi kesempatan padaku untuk memberikan kado indah ini untuk Annisa. Mungkin aku yang salah tapi inilah cara indahku mencintai seorang wanita, aku berani bersikap demikian karena aku percaya kalau Annisa benar-benar kuat. Benar memang dia tidak pernah meninggalkan cintanya untukku, tapi dia meninggalkanku untuk selama-lamanya. Cinta ini sangat menyengak tenggorokanku bahkan mampu menyumbat nafasku. Aku benar-benar tidak percaya ini terjadi padaku. Dipusaramu ini aku berjanji: akan kusibukkan kau dengan cintaku seperti kau yang menyibukkan hatimu dengan cintaku akan selalu aku ikhlaskan kau pergi agar ringan apa yang bersemayam dihatiku, aku hanya memohon kepada Dzat yang membalikkan segala rencana dan keinginanku siang ini, hasratku untuk menyuntingmu dan hasratmu untuk menemuiku, aku terima cobaan yang telah dilimpahkan untukku dan akan selalu aku biarkan cinta ini terus mengalir dihatiku, selamat jalan kasih jinggamu akan tetap hidup dalam relung hatiku walau ku tau senja hitam yang selalu menyelimuti.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar